
Kami melihat bahwa Tuhan yang sudah mengatur dan merencanakan semuanya. Pelayanan kami dimulai dengan mengiringi pertemuan JOY setiap Sabtu siang di SMA Marsudirini Matraman. Masih teringat waktu itu kita masih berlatih dalam sebuah ruang gudang kecil berukuran 2x2, dengan alat musik dan ampli seadanya. Setiap kali latihan, yang terdengar hanya suara berisik dan terasa panas karena sesaknya ruangan itu. Hal itu tetap membuat kami bersemangat, malahan bisa menghasilkan macam-macam aransemen di ruang itu. Ruangan kecil itu memang banyak berjasa untuk Chronicle.
Perlahan-lahan, mulai ada modal untuk berlatih di studio. Kami mulai menyisihkan uang jajan kami untuk berani bayar harga. Kami juga mulai memperdalam kemampuan musik dengan mengikuri kursus musik. Seorang pengajar pernah berkata tentang pentingnya bayar harga dalam pelayanan. Di dalam pelayanan musik berlaku juga demikian. Skill dan urapan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam melayani.
Semakin lama kami melayani dalam satu band, kami merasakan suatu kerinduan agar musik kami dapat memberkati lebih banyak orang, bukan cuma di kalangan JOY saja. Dalam setiap pelayanan, seringkali kami melihat pekerjaan Tuhan yang ajaib. Itu membuat kami terkesima dan berkobar-kobar untuk bisa memperkenalkan Tuhan kepada lebih banyak orang.
Musik itu ajaib. Dia bisa mengekspresikan jiwa dan bisa menyentuh hati. Merupakan suatu kebanggan bagi kami bahwa Tuhan memakai kami yang masih muda ini untuk mengenalkan Tuhan dengan musik.
Dengan cara Tuhan yang tidak terpikirkan, kami mendapatkan kesempatan untuk mulai membuat album perdana kami. Dengan modal nekad dan minim, kami coba mengeksplorasi kemampuan musik kami dengan membuat sebuah mini album indie. Sebagian besar lagunya diciptakan oleh Yohanna (keyboardis Chronicle), dan ada 1 lagu dari Puji Syukur yang diaransemen ulang.
Proses pengerjaannya memakan waktu kurang lebih 2 bulan. Waktu yang singkat memang, karena kami mengejar untuk launching dalam sebuah KRK Bo Sanchez pada bulan Februari 2007. Tepat pada masa-masa recording, banjir besar di Jakarta datang. Kadang memang kita tidak tahu apa rencana Tuhan. Tapi Dia bisa pakai segala kondisi agar kehendahNya terjadi. Karena banjir itu, kami semua tidak bisa kuliah dan kerja karena jalan-jalan tidak bisa dilewati. Alhasil, kami memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan proses recording. Memang Tuhan Yesus selalu setia dan dasyat. "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."1 Kor 2:9.
Puji nama Tuhan, album perdana Chronicle mendapatkan dukungan positif dari banyak orang. Kerinduan kami, agar nama Tuhan selalu dipermuliakan dalam setiap hal yang kami lakukan. Mohon dukungan doanya juga untuk rencana pembuatan album kedua kami.
Untuk informasi lebih lengkap mengenai pembelian CD Chronicle – Never Enough, bisa menghubungi kami.
Kamis, 05 Juni 2008
Di Balik Album Never Enough
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar